Kert, tercinta…
Malam ini tanpa kunang-kunang. Huh…terlalu berlebihan kiranya aku mengibaratkan malam ini. Aku tidaklah juga mengetahui caranya mengibaratkan malam ini padamu, kert. Remuklah aku sudah membayangkan dia yang hanya seperti sekelebat bayang tanpa raga. Membius sementara dan hilang tanpa kenang.
Jangan kau menyuruhku untuk mencari jejaknya. Tak terbayang pula itu. Aku bahkan tidak tahu bentuk tapaknya. Apa harus kupasang alat pencari di tubuhnya?. Bisa saja. Namun, aku terlalu takut untuk tahu tentang sekitarnya. Tentang warna yang dilihatnya, tentang bau yang diciumnya, tentang semuanya. Semuanya!.
Menanti lalu selayak sebuah fantasi tanpa batas untukku. Indah, aku hanya ingin yang indah. Lalu itu yang aku bayangkan. Aku sudah tidak mampu mengecap pahit, sekalipun aku paksa. Orang-orang berbicara tentangnya, pahit. Bagaimana nikmatnya merasakan manis ketika terlewatkan pahit. Bagaimana pahit membentuk kita seperti beton yang terdahulu dipukul, dihujam ke tanah dalam untuk kemudian tak gentar diguncang kulit bumi yang berlari. Tapi apa pahit bagiku? Kert, menurutmu apa lidahku kurang merasa pahit selama ini? Sekarang jawab. Aku ingin kau menjawab, kert!! Jawab jawab jawab! Keparat! Aku ingin membludakkan semua caci pada semua. Dengan buta dan membabi. Tak perlulah aku berfikir mengenai semua hal dimuka. Aku ingin sekarang. Siaaalll…!!!
Maaf kert. Kamu tetap tercinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar