Hai kert,
Hahaha…aku luluh lantak. Hahaha...
Benar-benar tidak bisa berkata lagi atas apa itu rasa di dalamku.
Cukuplah aku berkhayal tentang hal indah. Sampai disini aku menyunggingkan senyumku pada dunia. Tidak lagi tidak aku merasa seperti kemarin. Aku tidak ingin siapa-siapa. Benar-benar tidak ingin, kalau ingin itu justru menyengsarakan. Jadi buat apa ingin?. Hawhawhahwhaha…
Tenang kert. Tapi, aku masih ingin kamu. Kamu satu-satunya yang tidak pernah menyakitiku. Dunia saja selalu menyakitiku, tapi kamu tidak. Oh, iya…jangan tutup telinga yah…karena, hanya padamu aku akan tertawa dari dalam sini. Tidak ada lagi air mata untuk di luar sana. Tidak ada lagi gigi putih ini tersembul tipis. Tapi tidak untukmu. Karena, ketika semua di luar tidak ada yang aku beri satu pun dariku, tidak denganmu. Semua tentangku kamu tahu dan harus selalu tahu. Aku tidak mau tahu, kau harus mau…
Hawhhawhawha
Karena hanya padamu aku bisa beregois-ria.
Padamu, sesuatu yang selalu aku cari…kert.
Hidup itu takdir, tapi menjalani hidup adalah sebuah pilihan. Bagaimana, apa, dimana, untuk apa. Tidak masalah peran apa yang kita dapat, tetapi kemudian bagaimana kita memainkannya sebaik mungkin...
Rabu, 28 Oktober 2009
Kamis, 24 September 2009
ceracauku pada kert 2
Kert, tercinta…
Malam ini tanpa kunang-kunang. Huh…terlalu berlebihan kiranya aku mengibaratkan malam ini. Aku tidaklah juga mengetahui caranya mengibaratkan malam ini padamu, kert. Remuklah aku sudah membayangkan dia yang hanya seperti sekelebat bayang tanpa raga. Membius sementara dan hilang tanpa kenang.
Jangan kau menyuruhku untuk mencari jejaknya. Tak terbayang pula itu. Aku bahkan tidak tahu bentuk tapaknya. Apa harus kupasang alat pencari di tubuhnya?. Bisa saja. Namun, aku terlalu takut untuk tahu tentang sekitarnya. Tentang warna yang dilihatnya, tentang bau yang diciumnya, tentang semuanya. Semuanya!.
Menanti lalu selayak sebuah fantasi tanpa batas untukku. Indah, aku hanya ingin yang indah. Lalu itu yang aku bayangkan. Aku sudah tidak mampu mengecap pahit, sekalipun aku paksa. Orang-orang berbicara tentangnya, pahit. Bagaimana nikmatnya merasakan manis ketika terlewatkan pahit. Bagaimana pahit membentuk kita seperti beton yang terdahulu dipukul, dihujam ke tanah dalam untuk kemudian tak gentar diguncang kulit bumi yang berlari. Tapi apa pahit bagiku? Kert, menurutmu apa lidahku kurang merasa pahit selama ini? Sekarang jawab. Aku ingin kau menjawab, kert!! Jawab jawab jawab! Keparat! Aku ingin membludakkan semua caci pada semua. Dengan buta dan membabi. Tak perlulah aku berfikir mengenai semua hal dimuka. Aku ingin sekarang. Siaaalll…!!!
Maaf kert. Kamu tetap tercinta.
Malam ini tanpa kunang-kunang. Huh…terlalu berlebihan kiranya aku mengibaratkan malam ini. Aku tidaklah juga mengetahui caranya mengibaratkan malam ini padamu, kert. Remuklah aku sudah membayangkan dia yang hanya seperti sekelebat bayang tanpa raga. Membius sementara dan hilang tanpa kenang.
Jangan kau menyuruhku untuk mencari jejaknya. Tak terbayang pula itu. Aku bahkan tidak tahu bentuk tapaknya. Apa harus kupasang alat pencari di tubuhnya?. Bisa saja. Namun, aku terlalu takut untuk tahu tentang sekitarnya. Tentang warna yang dilihatnya, tentang bau yang diciumnya, tentang semuanya. Semuanya!.
Menanti lalu selayak sebuah fantasi tanpa batas untukku. Indah, aku hanya ingin yang indah. Lalu itu yang aku bayangkan. Aku sudah tidak mampu mengecap pahit, sekalipun aku paksa. Orang-orang berbicara tentangnya, pahit. Bagaimana nikmatnya merasakan manis ketika terlewatkan pahit. Bagaimana pahit membentuk kita seperti beton yang terdahulu dipukul, dihujam ke tanah dalam untuk kemudian tak gentar diguncang kulit bumi yang berlari. Tapi apa pahit bagiku? Kert, menurutmu apa lidahku kurang merasa pahit selama ini? Sekarang jawab. Aku ingin kau menjawab, kert!! Jawab jawab jawab! Keparat! Aku ingin membludakkan semua caci pada semua. Dengan buta dan membabi. Tak perlulah aku berfikir mengenai semua hal dimuka. Aku ingin sekarang. Siaaalll…!!!
Maaf kert. Kamu tetap tercinta.
Minggu, 30 Agustus 2009
ceracauku pada kert 1
Akh, kert…
Jemariku mulai aku latih untuk bisa menari lagi di atas tobol-tombol bergambar abjad. Kau tahu sudah berapa lama aku menidurkan jerijiku?-tidak perlu ditanya lagi, aku kira kau cukup tahu. Ya, kert. Lemah sekali setelah mereka ditidurkan selama itu. Kepalaku berat untuk memukul-mukul layar layaknya kita dulu saat masih sering bersenda gurau.
Maaf, aku baru sekarang berani lagi untuk mulai menghampirimu. Sebenarnya, beberapa kali, diwaktu lalu aku coba mengetuk pintu mu, tapi tidak berhasil. Aku masih terlalu egois dengan urusan-urusan diluar. Atau, sebenarnya terlalu takut mencoba masuk ke dalam dan mulai bercengkrama lagi denganmu. Aku takut untuk melihat tata perabotanmu di dalam rumah itu. Takut melihat warna cat di dalamnya. Terlebih lagi, aku takut melihat cermin besar yang terpajang jelas di ruang tamu-mu yang mengkilat licin menampakkan semuanya dengan polos dan detil. Aku lebih tergoda untuk melihat cermin lain di luar sana yang lebih buram, tidak sedatar cermin di rumahmu.
Oh, iya…bagaimana kabar si mbok? Lama pula aku tidak menyapanya. Apa ia masih lucu seperti dulu?. Hey…kert, aku fikir, janganlah kau terlalu keras padanya. Kasihan dia sudah tua. Jaganlah kau suruh-suruh mengerjakan hal-hal yang sebenarnya bisa kau kerjakan sendiri. Menurutku justru si Om tak itu yang harus lebih kau perhatikan. Latih dia. Buat dia tahu siapa dirinya. Jangan kau biarkan saja dia bermalas-malasan di situ. Tiada bagus itu.
-----
Kert, kau masih menyimpan jilid-jilid kertas penuh tinta yang biasa kita buru dan kemudian kita tertawa bersama karenanya?. Beberapa di tempatku telah berkurang. Entah pergi ke mana. Sekarang, aku yang kesepian.
Sekarang aku miskin. Lebih miskin dari yang bisa kau bayangkan tentang sebuah kemiskinan. Juga bodoh, lebih dari sebuah kebodohan yang pernah kau ketahui selama ini. Hai!!! Jangan tertawa. Aku serius.
Ya sudahlah, tertawa sana sepuasmu. Aku tahu bukan kemiskinan dan bodohku yang kau jadikan sasaran. Memang…memang aku yang membuat semua itu jadi benar ada padaku. Memang bukan karena siapa-siapa. Tapi, aku takut. Itu sejatinya yang membuat semua ada dan menjadikanmu tertawa sebegini kerasnya di depanku. Yah…kalau saja aku tidak takut. tapi tetap saja “kalau”-sesuatu yang sebaiknya aku lakukan dulu, tapi tidak.
Sudah ya, jangan tertawa lagi. Sekarang aku di depanmu ingin lagi berbincang layaknya dulu waktu blakas kita masih tajam dan sangat gampang untuk mencacah daging yang sekeras apa juga. Aku tidak akan malu untuk menundukkan kepalaku di depanmu mendengar semua ilmu yang lebih dulu kau tahu selama aku berjalan di luar sana. Tentang pagi dan malam yang begitu kontras, tentang riak air yang lupa aku selami, tentang debu kecil yang lama tidak aku rasakan, tentang kicau dara yang mematuk dada, dan tentang semua…semuanya kert. Tolong, ingatkan aku pada panasnya surya siang yang gagah, pada dingin subuh yang tajam, pada lenguhan kerbau yang tidak peduli jika hidungnya telah tertusuk besi. Karena, kini aku lemah, gontai tak terarah pada satu rumah. Aku yang tertegun di depan cermin besar di ruang tamu-mu. Melihat ada apa di dalamnya. Tidak terbayang sama sekali sebesar apalagi cermin-cermin yang ada di ruang keluarga, ruang tidur, dapur, terlebih di kamar mandimu. Menghadapi yang satu ini saja aku masih berusaha kuat.
Jangan pergi dulu, kert. Tolong pegang jemariku. Ajari tarian-tarian baru yang kau dapati dari sari-sari alam. Sedikit kaku memang jemariku. Tapi, kau jangan menyerah yah. Bila perlu kau paksa saja dia bergerak. Pecut dia, jika salah. Putar dia kemana kau berkehendak. Aku mohon, kert. Tidaklah aku tega membiarkan mereka tertidur lagi selama kemarin itu. Jangan pula kau menjadi tega pada mereka, ya.
-----
Ingat kau pada rasa yang belum lama mengorek dalam padaku
Yang nafasnya berkali menghembus api untukku.
Yang aku gila dijadikannya.
Jangankan kau, aku pun masih sulit untuk percaya.
Lebih sulit lagi mempercayai rasa baru yang kini ada. Singkat…terlalu singkat.
Terlalu malu untuk aku paparkan.
Dan bodoh aku jika mempercayai itu.
Tapi aku ingin percaya.
Ingin sekali.
Logika dan hatiku dikoyaknya.
Seperti aku ingin dibodohi lagi dengan sebuah kesadaran dan apa pun adanya sekarang.
Seperti arak yang sesadar-sadarnya pun aku tetap tenggak.
Bagaimana harusnya aku.
Yang aku tahu justru tidak aku buat.
Kembali aku takut, tapi karena inginku begitu.
Karena inginku untuk menerima itu.
Kau fikir apa aku, kert? Kini tertawa lagi, kau.
Tertawa untukku sampai menangis sendu sedan padaku.
Akhhh….
Gila kau!
Jemariku mulai aku latih untuk bisa menari lagi di atas tobol-tombol bergambar abjad. Kau tahu sudah berapa lama aku menidurkan jerijiku?-tidak perlu ditanya lagi, aku kira kau cukup tahu. Ya, kert. Lemah sekali setelah mereka ditidurkan selama itu. Kepalaku berat untuk memukul-mukul layar layaknya kita dulu saat masih sering bersenda gurau.
Maaf, aku baru sekarang berani lagi untuk mulai menghampirimu. Sebenarnya, beberapa kali, diwaktu lalu aku coba mengetuk pintu mu, tapi tidak berhasil. Aku masih terlalu egois dengan urusan-urusan diluar. Atau, sebenarnya terlalu takut mencoba masuk ke dalam dan mulai bercengkrama lagi denganmu. Aku takut untuk melihat tata perabotanmu di dalam rumah itu. Takut melihat warna cat di dalamnya. Terlebih lagi, aku takut melihat cermin besar yang terpajang jelas di ruang tamu-mu yang mengkilat licin menampakkan semuanya dengan polos dan detil. Aku lebih tergoda untuk melihat cermin lain di luar sana yang lebih buram, tidak sedatar cermin di rumahmu.
Oh, iya…bagaimana kabar si mbok? Lama pula aku tidak menyapanya. Apa ia masih lucu seperti dulu?. Hey…kert, aku fikir, janganlah kau terlalu keras padanya. Kasihan dia sudah tua. Jaganlah kau suruh-suruh mengerjakan hal-hal yang sebenarnya bisa kau kerjakan sendiri. Menurutku justru si Om tak itu yang harus lebih kau perhatikan. Latih dia. Buat dia tahu siapa dirinya. Jangan kau biarkan saja dia bermalas-malasan di situ. Tiada bagus itu.
-----
Kert, kau masih menyimpan jilid-jilid kertas penuh tinta yang biasa kita buru dan kemudian kita tertawa bersama karenanya?. Beberapa di tempatku telah berkurang. Entah pergi ke mana. Sekarang, aku yang kesepian.
Sekarang aku miskin. Lebih miskin dari yang bisa kau bayangkan tentang sebuah kemiskinan. Juga bodoh, lebih dari sebuah kebodohan yang pernah kau ketahui selama ini. Hai!!! Jangan tertawa. Aku serius.
Ya sudahlah, tertawa sana sepuasmu. Aku tahu bukan kemiskinan dan bodohku yang kau jadikan sasaran. Memang…memang aku yang membuat semua itu jadi benar ada padaku. Memang bukan karena siapa-siapa. Tapi, aku takut. Itu sejatinya yang membuat semua ada dan menjadikanmu tertawa sebegini kerasnya di depanku. Yah…kalau saja aku tidak takut. tapi tetap saja “kalau”-sesuatu yang sebaiknya aku lakukan dulu, tapi tidak.
Sudah ya, jangan tertawa lagi. Sekarang aku di depanmu ingin lagi berbincang layaknya dulu waktu blakas kita masih tajam dan sangat gampang untuk mencacah daging yang sekeras apa juga. Aku tidak akan malu untuk menundukkan kepalaku di depanmu mendengar semua ilmu yang lebih dulu kau tahu selama aku berjalan di luar sana. Tentang pagi dan malam yang begitu kontras, tentang riak air yang lupa aku selami, tentang debu kecil yang lama tidak aku rasakan, tentang kicau dara yang mematuk dada, dan tentang semua…semuanya kert. Tolong, ingatkan aku pada panasnya surya siang yang gagah, pada dingin subuh yang tajam, pada lenguhan kerbau yang tidak peduli jika hidungnya telah tertusuk besi. Karena, kini aku lemah, gontai tak terarah pada satu rumah. Aku yang tertegun di depan cermin besar di ruang tamu-mu. Melihat ada apa di dalamnya. Tidak terbayang sama sekali sebesar apalagi cermin-cermin yang ada di ruang keluarga, ruang tidur, dapur, terlebih di kamar mandimu. Menghadapi yang satu ini saja aku masih berusaha kuat.
Jangan pergi dulu, kert. Tolong pegang jemariku. Ajari tarian-tarian baru yang kau dapati dari sari-sari alam. Sedikit kaku memang jemariku. Tapi, kau jangan menyerah yah. Bila perlu kau paksa saja dia bergerak. Pecut dia, jika salah. Putar dia kemana kau berkehendak. Aku mohon, kert. Tidaklah aku tega membiarkan mereka tertidur lagi selama kemarin itu. Jangan pula kau menjadi tega pada mereka, ya.
-----
Ingat kau pada rasa yang belum lama mengorek dalam padaku
Yang nafasnya berkali menghembus api untukku.
Yang aku gila dijadikannya.
Jangankan kau, aku pun masih sulit untuk percaya.
Lebih sulit lagi mempercayai rasa baru yang kini ada. Singkat…terlalu singkat.
Terlalu malu untuk aku paparkan.
Dan bodoh aku jika mempercayai itu.
Tapi aku ingin percaya.
Ingin sekali.
Logika dan hatiku dikoyaknya.
Seperti aku ingin dibodohi lagi dengan sebuah kesadaran dan apa pun adanya sekarang.
Seperti arak yang sesadar-sadarnya pun aku tetap tenggak.
Bagaimana harusnya aku.
Yang aku tahu justru tidak aku buat.
Kembali aku takut, tapi karena inginku begitu.
Karena inginku untuk menerima itu.
Kau fikir apa aku, kert? Kini tertawa lagi, kau.
Tertawa untukku sampai menangis sendu sedan padaku.
Akhhh….
Gila kau!
Langganan:
Postingan (Atom)