Jumat, 23 November 2007

JENGAH...


Tiba pada suatu masa diri ini jengah pada semuaya.
----
Buku-buku menumpuk pada tempatnya di kamarku. Ada juga yang kujejalkan, kupaksa masuk pada bagian meja dan lemari kayu. Di kiri asap terus menguap memenuhi ruangan, kira-kira sejak dua semester lalu. Ya, aku termakan janji dan celoteh sendiri. Jam berlingkar merah, di tengahnya terdapat gambar rokok bertumpuk garis miring merah miring seperti ingin memperingatkanku. Beberapa rim kertas aku lipat-lipat menurut kelompoknya, aku bariskan rapi menyamping di rak sebelah kiri layar. Majalah-majalah dadakan yang aku beli tertumpuk di bawahnya. Teratas, kuletakkan setumpuk literatur dan Undang-Undang hasil bualan para tua bangka jauh di sana. Sisi kanan kamar aku hiasi dengan lemari pakaian, di sampingnya karung kain kotor penuh sesak kuletakkan. Tempat bermimpi tepat di depan meja kerja. Di bawahnya ada juga mesin pencetak modern.

i

Siang di November, musim hujan, tapi bukan main panas ruangan ini. Aku tidak menahan. Emosi ini memuncak dibuatnya. Hampir menuju tengah hari. Sebentar lagi Sang Surya berada pada singgasana tertingginya. Seharian aku tidak ke mana-mana, hanya ditemani musik pemadat film-film nasional. Badanku penuh peluh. Akh…hari ini memang menyebalkan.

Sebentar aku disela oleh kert yang tiba-tiba datang dari barat kamar. Duduk di kursi kerja, badannya menyamping kiri, kepalanya di arahkan padaku, lalu berceloteh.

Hei, kawan. Apa gerangan yang ada di fikirmu? Aku lihat kening itu mengernyut keras selayak aspal di kotamu yang terlipat karena kelebihan beban.
Tidaklah ingin kumengganggu kerjamu itu, tapi cobalah bangun sebentar. Ada baiknya kita berbincang, aku sedang bosan…yah, aku tau kalau kau lebih jengah daripada aku, tapi tidak salah, toh? Kalau kau bosan dengan pembicaraan tentang para Tetua di jauh sana, bisa kita bicara tentang hal lain.
Mungkin kuliah?
Hm…sepertinya kau juga tidak tertarik.
Bisalah kita bicara tentang hal-hal ringan dan konyol saja atau kau mau membahas tentang wanita?

Tiada kupedulikan. Aku tetap diam di singgasana mimpi, dengan kaki terlipat di dada, di atas lututnya kutumpangkan dagu.
Kert tersenyum, sepertinya dipaksakan. kuketahui karena terlihat sangat masam olehku. Dia menggoyang-goyang telapak tangannya ke kanan-kiri layaknya orang yang mengucap selamat tinggal, tepat di depan wajahku. Menghela napas sebentar, lalu berdiri, kemudian mengambil tempat di samping kananku. Duduk, kakinya dibiarkan saja lemas terlentang lurus ke depan. Telapak kakinya tengadah selayak menantang langit, di situ terlihat kuku jempol kaki kanannya berbercak hitam, sepertinya semalam dia berurusan lagi dengan tinta.

Celotehnya berlanjut.

Hohoho…kawan, janganlah durjana itu dibiarkan berlabuh di hati. Ya, setidaknya jawablah aku. Tega benar kau membiarkan kawanmu ini bicara sendiri selayak orang sakit. Hm….

Kert, kini mulai terlihat sedikit menyerah.
Tak tega juga aku melihatnya, kemudian kutimpali.

Akh… Kert, kau ini ada-ada saja. Maaf, aku tadi meregang imaji sebentar.
Ya, kau benar, aku memang sudah jengah.
Lebih dari yang sedang kau alami. Bahkan pun dari yang kau ketahui.
Semuanya, kert, semuanya. Beruntung aku masih memiliki Tuhan. Tapi, ya sudahlah…memangnya siapa aku ini berani men-jengah pada sesuatu. Toh hidup itu tetaplah anugerah, ya tidak menafikkan juga kalau ia pasti memberi getir pada kita.

Aku tersenyum kecut sambil memandang padanya. Sementara itu, Kert menengadah, sedikit menghela nafas. Tidak begitu peduli. Aku berucap lagi.

Ngomong-ngomong, ada perlu apa kau, kert? Tiba-tiba saja tengah hari bolong masuk ke daerah kekuasaanku. Tida takut kau kupukul selayak maling.

Seketika, Kert membuang mukanya ke kiri, ke arahku, memelototiku.

Akh, kau ini ada-ada saja. Sudah dari tadi diam, sekarang malah ingin memukuliku. Terlalu benar.

Kami saling berpandang, tersenyum sedikit menuju pada tawa. hanya nafas saja yang terdengar lebih banyak dibuang lewat rongga hidung. Tawa yang kecut dan sedikit dipaksakan, memang.


to be continued...

Jumat, 09 November 2007

JENGAH

Jengah...aku benar-benar jengah dengan semuanya...
apa kalian juga merasakannya???