Selasa, 10 Juni 2008

SKB seharusnya tidak keluar


Akhirnya pemerintah akhirnya mengeluarkan juga SKB (Surat Keputusan Bersama) tentang ajaran Ahmadiyah. tapi saya sendiri kurang setuju dengan langkah yang diambil pemerintah tersebut. Faktor yang menyebabkan saya tidak menetujui langkah pemerintah tersebut, antara lain pertama, bahwa negara kita adalah negara demokrasi yang di dalam UUD'45 dengan tegas menyebutkan bahwa negara menjamin kebebasan warga negaranya untuk memeluk agama dan kepercayaannya masing-masing. Dengan mengeluarkan SKB, pemerintah berdalih bahwa hal tersebut bukanlah intervensi pemerintah ke dalam wilayah kepercayaan beragama masyarakat. Namun, ketentuan-ketentuan dalam SKB tersebut membuktikan lain. Di dalamnya terdapat ketentuan bahwa pemerintah memerintahkan para jemaat Ahmadiyah untuk menghentikan kegiatanya. parahnya lagi pemerintah akan memberikan sanksi apabila para anggota/pengurus JAI masih melakukan kegiatanya. Apa ini bukan intervensi? Apalagi dengan pemberian sanksi. Bisa dibilang pemerintah telah melakukan pelarangan bagi warga negaranya untuk memeluk kepercayaannya masing-masing. Jika memang negara ini berdasar keTuhanan, pemerintah seharusnya tidak mengeluarkan SKB, terlebih lagi disertai dengan ancaman sanksi. Kalau pemerintah memang ingin menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat, justru pemerintah harus memberi perlindungan tegas terhadap JAI. Melarang aksi-aksi anarkis terhadap warga JAI lebih memberikan pemerintah wibawa dibanding dengan mengeluarkan SKB. dengan keluarnya SKB, ditakutkan nantinya semua warga non JAI merasa memiliki hak untuk melakukan peradilan jalanan kepada warga JAI yang nantinya setelah SKB keluar kedapatan melakukan kegiatan alirannya.

Kedua, sikap pemerintah tersebut semakin memberi kesan bahwa pemerintah tidak tegas. tidak memiliki keberanian dan wibawa. Hanya karena tuntuan dari beberapa ormas, pemerintah langsung tuduk. Sikap tunduk pemerintah saya nilai sangatlah salah tempat. Kita tahu, sebelum kejadian Monas tersebut, seluruh Indonesia bergolak dikarenakan kenaikan harga BBM. Mahasiswa-mahasiwa dan penduduk Inonesia di setiap pelosok negeri turun ke jalan menuntut penurunan harga BBM, namun pemerintah diam. tidak menggubris. padahal kejadian ini bisa dipastikan terjadi setiap pemerintah menaikkan harga BBM. Kemudian, di tengah hiruk-pikuk unjuk rasa kenaikan BBM, terjadi insiden monas yang tidak kalah menarik perhatian masyarakat. Tanpa basa-basi, pemerintah langsung mengambil jalan tengah dengan mengeluarkan SKB tentang ajaran Ahmadiyah. Sungguh memalukan dan licik, menurut saya. Jangan-jangan kejadian monas tersebut adalah sebuah konspirasi. Sengaja diatur pemerintah untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari kenaikan harga BBM. Lihat saja, setelah kejadian tersebut, hampir setiap headline berita, baik TV maupu media cetak penuh dengan berita FPI, padahal tadinya mereka masih disibukkan dengan isu kenaikan BBM. Rakyat dibuat lupa dengan urusan yang sebenarnya lebih penting. inilah momentum yang sudah ditunggu0tunggu pemerintah. Dengan begitu, pemerintah tidak lagi repot-repot harus keluar gedung kantor hanya untuk menemui para pendemo-pendemo minyak.

Sadarlah Indonesia!!!

Indonesia itu berdasar Ketuhanan


Kekerasan di Indonesia sepertinya telah menjadi tradisi tersendiri. Kemarin, minggu 1 Juni 2008 terjadi penyerangan terhadap aktivis Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Keberagaman yang sedang menggelar unjuk rasa di Monas. FPI beralasan, penyerangan itu dilakukan karena AKK-BB dianggap telah mendukung aliran Ahmadiyah yang sampai sekarang masih menjadi kontroversi.

Penyerangan tersebut dilakukan secara membabi-buta. tidak pandang bulu. Dengan menggunakan potongan bambu dan batu, masa FPI dengan brutal memukuli masa AKK-BB yang sedang berunjuk rasa. Dari kesaksian Asfinawati, anggota AKK-BB, ternyata aksi FPI tersebut bukanlah aksi spontan, tapi cenderung direncanakan sebelumnya, terlihat dari senjata yang digunakan, salah satunya pasir yang telah dicampur sebelumnya dengan bahan-bahan kimia tertentu yang membuat mata perih dan kulit gatal. Aksi tersebut juga telah dikoordinasikan sebelumnya di Masjid Istiqlal.

Kejadian tersebut telah menimbulkan korban mencapai 70 orang. 7 Orang di antaranya masih dirawat intensif. 6 Orang telah divisum dan 6 lainnya telah di-BAP. Ternyata korban tidak hanya dari kaum pria, namun ibu-ibu dan anak-anak pun turut menjadi korban.

Bukan saya ingin memyudutkan FPI atau membela AKK-BB. Tapi saya memandang bahwa apapun itu, kekerasan seharusnya tidak menjadi solusi. Indonesia merupakan negara dengan berbagai macam perbedaan yang memang sangat beresiko menimbulkan pelbagai konflik kepentingan. Tapi kekerasan bukanlah jalan tengah dan hal tersebut sangat tidak bisa dimaklumi. Saya percaya bahwa semua agama apapun di dunia sangat membenci kekerasan. Semua agama pastilah mengajarkan kelembutan dan cinta kasih serta menghargai perbedaan, termasuk Islam. Seharusnya FPI mengetahui itu. Saya merasa sedih pemimpin FPI, Habib Rizieq, dengan lantang mengatakan setiap tindakan kekerasan yang dilakukan FPI adalah atas nama dan kepentingan Islam. Timbul pertanyaan kemudian, sebenarnya siapa yang telah melakukan penodaan terhadap Islam???